Alexia Putellas menyoroti perbedaan WSL dan Liga F setelah memutuskan melanjutkan kariernya di luar Barcelona. Perpindahannya ke London City Lionesses bukan hanya soal tantangan di lapangan, tetapi juga peluang untuk mengangkat visibilitas sepak bola wanita melalui proyek media yang ia jalankan.

Selain tampil sebagai salah satu nama besar di Women’s Super League, Putellas meluncurkan kanal YouTube bernama ‘Eleven TV by Alexia’ yang akan menayangkan satu pertandingan setiap pekan dari kompetisi Inggris. Ide itu lahir secara sederhana ketika sang nenek bertanya ke mana ia bisa menonton laga-laganya setelah pindah klub.
Langkah profesional setelah meninggalkan Barcelona
Pindahnya Putellas ke London City Lionesses menandai musim pertamanya jauh dari FC Barcelona, klub yang selama ini menjadi rumah dan panggung kesuksesannya. Setelah meraih hampir semua gelar bergengsi bersama klub Katalunya, ia memilih mencari tantangan baru di liga Inggris yang terkenal kompetitif. Di sana, ia tak hanya menjadi pemain andalan klub barunya, tetapi juga sosok yang diharapkan bisa semakin mempopulerkan sepak bola wanita.
Motivasi di balik ‘Eleven TV by Alexia’
Inisiatif kanal ‘Eleven TV by Alexia’ lahir dari niat sederhana: mempermudah penggemar mengikuti perjalanan kariernya dan memberi akses lebih luas ke WSL. Dalam presentasi kanal tersebut, Putellas bercerita bahwa gagasan itu muncul saat berbincang dengan neneknya yang bertanya di mana bisa menonton laga-laganya setelah ia pindah ke Inggris. Melalui kanal itu, ia berencana menayangkan satu pertandingan per jornada sebagai cara memperluas jangkauan kompetisi.
Perbedaan WSL dan Liga F menurut Alexia Putellas
Soal perbedaan WSL dan Liga F, Putellas menegaskan ada nuansa berbeda dalam interpretasi permainan di masing-masing kompetisi. Ia mengakui bahwa intensitas fisik di Inggris terasa tinggi, tetapi hal itu tidak sepenuhnya mengejutkannya. “Dan kamu tahu apa? Akhirnya, di Barça, terutama beberapa musim terakhir, intensitas yang kami miliki di latihan sangat luar biasa… jadi mungkin aspek fisik tidak begitu mengejutkan bagiku karena itu,” ujarnya dengan reflektif.
Namun, ketika membatasi pembicaraan pada pertandingan, Putellas menyoroti perbedaan yang paling jelas: intensitas duel. “Tetapi jika berbicara hanya tentang pertandingan, tempat aku merasakan perbedaan terbesar adalah pada intensitas duel. Tidak peduli menit berapa; intensitas duel tetap maksimal hingga akhir,” katanya, menggambarkan bagaimana kompetisi Inggris mempertahankan tekanan fisik sepanjang laga.
Aspek taktis vs fisik dalam gaya permainan
Putellas juga menilai bahwa perbedaan antara kedua liga bukan hanya soal tenaga. Di Spanyol, menurutnya, permainan cenderung lebih taktis: pemain tampak memahami apa yang terjadi di lapangan dan pola permainan menjadi elemen utama. “Di Spanyol, permainan jauh lebih taktis. Kamu merasakan hampir semua pemain mengerti apa yang terjadi di lapangan,” jelasnya.
Sementara itu, di Inggris, aspek tersebut kerap digantikan oleh dominasi fisik dan atletisme: permainan lebih mengutamakan kecepatan, kekuatan, dan duel fisik. Menurutnya, kedua karakter itu berbeda satu sama lain, namun masing-masing memiliki nilai tersendiri yang membuat kompetisi menarik.
Sikap Putellas soal perbandingan dan adaptasi
Meski ia menguraikan perbedaan gaya antara WSL dan Liga F, Putellas menolak menyatakan mana yang lebih baik. “Itu berbeda (cara menafsirkan sepak bola antara kedua kompetisi). Aku tak ingin membandingkan apakah satu lebih baik atau buruk,” ujarnya, menegaskan fokusnya pada adaptasi dan kontribusi untuk klub baru.
Tujuan utamanya kini adalah membantu London City Lionesses berkembang di kompetisi Inggris dan memanfaatkan platform barunya untuk memperluas jangkauan sepak bola wanita. Dengan pengalaman dari klub besar dan perhatian yang besar terhadap detail taktis serta fisik, Putellas mencoba menggabungkan aspek terbaik dari kedua dunia untuk terus menaikkan level permainannya.
Dalam pendekatan kariernya, perpindahan ini menjadi momen pembelajaran sekaligus peluang baru. Selain bersaing di lapangan, inisiatif seperti ‘Eleven TV by Alexia’ menunjukkan ambisinya untuk tetap berperan dalam perkembangan olahraga ketika kelak memutuskan menutup karier sebagai pemain.
