De la Barrera mengubah Las Palmas: lebih banyak talenta lokal dan hasil lebih positif — De La Barrera Las

De la Barrera Las Palmas sudah menunjukkan perubahan nyata di awal musim. Dalam empat pertandingan liga pertama, tim asuhan Coruñés itu mengumpulkan tujuh poin dan menampilkan lebih banyak pemain dari akademi dibandingkan periode sebelumnya.

de la barrera las - ilustrasi berita De la Barrera mengubah Las Palmas: lebih banyak talenta lokal dan hasil lebih…

Perubahan skema dan kebijakan klub tampak dalam komposisi skuat, pengelolaan anggaran, serta kepercayaan kepada talenta lokal. Di tengah pengurangan nilai pasar dan batas pengeluaran yang lebih ketat, pendekatan ini memberi hasil sportif yang lebih baik pada fase awal kompetisi.

De la Barrera Las Palmas: lebih banyak talenta lokal

Salah satu perubahan paling mencolok adalah pemberian kesempatan kepada pemain binaan sendiri. De la Barrera memberi debut kepada dua pemain berusia 16 tahun, Rafa Cruz dan Elías Romero, pada laga pembuka melawan Albacete. Pada pertandingan melawan Leganés, tujuh pemain yang menapaki jalur akademi turun sejak awal, dan kemudian jumlah itu bertambah menjadi sembilan setelah masuknya Cruz dan Romero.

Perbandingan dengan rezim Luis García menegaskan pergeseran prioritas ini. Sementara Luis García membutuhkan 43 pertandingan (liga dan playoff) untuk memberi debut kepada Ivan Medina selama masa kepelatihannya, De la Barrera lebih cepat membuka pintu bagi talenta lokal. Langkah ini mengingatkan pada periode ketika klub menekankan promosi pemain muda dari Anexo.

Hemat anggaran dan penurunan nilai pasar

Perombakan kebijakan juga tercermin di laporan finansial skuat. Nilai pasar tim pada musim sebelumnya tercatat 44,3 juta euro, sedangkan nilai grup pemain di era De la Barrera saat ini turun menjadi 29,7 juta euro. Selain itu, beberapa perubahan dalam pasar transfer—termasuk penjualan kiper Dinko Horkas ke liga di Emirates senilai 4,5 juta—mempengaruhi komposisi dan nilai tim.

Pembatasan pengeluaran kini terasa nyata. Pada penutupan bursa musim panas 2025, klub sempat bisa membelanjakan hingga 13,3 juta yang kemudian menjadi 15,1 juta untuk paruh musim kedua. Namun kondisi saat ini menunjukkan batas pengeluaran untuk transfer dan staf teknis hanya sedikit di atas lima juta euro, memaksa klub berfokus pada pengembangan internal.

Perbandingan awal musim dengan era Luis García

Dari sisi kompetisi, siklus De la Barrera unggul sedikit di perolehan poin. Setelah empat laga, timnya memiliki tujuh poin (dua kemenangan, satu imbang, satu kalah), sementara pada titik yang sama musim lalu di bawah Luis García, Las Palmas mengumpulkan lima poin. Selisih dua angka ini menjadi indikator awal bahwa pendekatan baru mulai bekerja.

Keberhasilan awal ini diperoleh meski menghadapi banyak kendala non-sportif dan sportif. Penonton di dua laga kandang pertama turun dari 41.703 menjadi 35.913, penurunan sebanyak 5.790 orang, walau jumlah pemegang abonemen justru meningkat menjadi rekor 25.006—sekitar dua ribu lebih banyak dibanding musim 25-26.

Kondisi skuat dan tantangan yang dihadapi

De la Barrera menangani daftar pemain yang kesulitan fit: tujuh pemain cedera (Marvin Park, Viti Rozada, Opoku, Edward Cedeño, Ale García, Sergio Ruiz, dan Jere Recobita), satu pemain yang absen karena skorsing (Jesé Rodríguez), serta tiga pemain yang merasakan dampak cedera ringan (kiper Churripi bermasalah pada pergelangan, Ivan Jaime dan Enrique Clemente).

Di tengah keterbatasan ini, tim mampu meredam ancaman lawan seperti Leganés, yang hanya mampu melepaskan satu tembakan mengarah ke gawang Luca Zidane—berasal dari Miyashiro—dan membuat tim tamu melancarkan ancaman melalui pemain seperti Álvaro Morata. Hasil ini menunjukkan kemampuan mengelola laga meski komposisi pemain dipaksa berubah.

Identitas permainan dan prospek ke depan

Gaya yang diusung De la Barrera semakin menegaskan komitmen pada pengembangan lokal: promosi pemain muda seperti Valentín Pezzolesi yang mendapat kontrak profesional pada penutupan bursa menjadi simbol dari kebijakan ini. Keputusan tersebut memunculkan sentimen yang mengingatkan pada momen-momen ketika klub menonjolkan talenta muda besar.

Meskipun klub kehilangan beberapa nama dari skuad sebelumnya—Mika Mármol, Barcia, Amatucci atau Dinko—pergantian itu diimbangi hasil yang lebih baik dalam fase awal kompetisi dan penekanan kuat pada akademi. Namun, masih ada 38 pertandingan tersisa yang menjadi ujian nyata bagi konsistensi sistem baru ini.

Di atas kertas, pergeseran ini memberikan nilai ganda: menekan pengeluaran dan membuka jalan bagi generasi pemain lokal untuk tampil. Sukses jangka panjang akan tergantung pada kemampuan klub mempertahankan keseimbangan antara hasil kompetitif dan pengembangan pemain dari dalam.