Christian Horner meredam spekulasi soal kemungkinan dirinya kembali ke F1 bersama Alpine, dengan mengatakan ia belum melihat kesempatan yang tepat di tim Prancis tersebut. Mantan bos tim yang memimpin selama lebih dari dua dekade itu menegaskan masih terbuka untuk kembali, tapi hanya jika kondisi dan peran yang ditawarkan sesuai dengan ambisinya.

Horner dipecat sebagai team principal Red Bull pada Juli 2025 dan laporan perusahaan mengungkapkan dia menerima kompensasi sebesar £67 juta atas pemutusan jabatan. Sejak kepergiannya, nama Horner kerap dikaitkan dengan sejumlah tim besar termasuk Alpine, Ferrari, dan Aston Martin, seiring spekulasi mengenai langkah berikutnya dalam kariernya.
Pertimbangan Horner untuk kembali ke F1 dan posisi Alpine
Dalam wawancara dengan Sky Sports, Horner menjelaskan bahwa keputusan untuk kembali ke dunia balap tergantung pada situasi yang ditawarkan. Ia menyoroti bahwa nilai tim-tim Formula 1 kini jauh meningkat dan bahwa peluang yang layak harus memenuhi harapannya. Menurut Horner, pada saat ini ia tidak melihat kecocokan yang pas di Alpine.
Ia menegaskan bahwa setiap tim seharusnya berupaya memenangkan balapan, namun karakter dan struktur tiap tim berbeda-beda. Pernyataan itu menegaskan sikapnya yang selektif: dia bersedia mempertimbangkan tawaran yang tepat, tapi juga merasa nyaman jika tetap berada di luar paddock untuk sementara waktu.
Syarat peran yang diinginkan
Horner mengulang bahwa jika kembali, ia menginginkan peran dengan pengaruh signifikan — peran yang memungkinkan dia membuat perubahan besar dalam organisasi. Ia menggunakan ungkapan bahwa ia ingin memiliki kemampuan untuk ‘menyalakan lampu’ di sebuah tim, sebagai gambaran kebutuhan akan otoritas dan kendali operasional yang memadai.
Selain itu, sumber menyebut Horner cenderung lebih memilih posisi yang melibatkan kepemilikan atau peran manajerial yang sejalan dengan visi jangka panjangnya. Pernyataan itu menegaskan mengapa tawaran biasa sebagai manajer tim mungkin tidak menarik baginya, kecuali jika struktur dan tanggung jawabnya memenuhi kriteria tersebut.
Baca juga: Peluang Gelar di Austin: Panduan Menonton dan Jadwal GP Amerika F1 2026 — Gp Amerika Austin
Reaksi terhadap spekulasi seputar Ferrari
Pujian Horner terhadap Ferrari sempat memicu spekulasi terkait masa depan pimpinan tim Italia, yang membuat situasi menjadi tidak nyaman bagi Fred Vasseur. Horner mengatakan ia menyesalkan munculnya gosip yang timbul dari komentar-komentarnya, menambahkan bahwa niatnya semata-mata untuk menghormati posisi historis Ferrari dalam dunia balap.
Ia menjelaskan bahwa beberapa komentar yang muncul berasal dari wawancara lama yang kemudian beredar bersamaan dengan pernyataan lain di lintasan, sehingga spekulasi itu berkembang di luar konteks. Horner menyatakan simpatinya terhadap Vasseur karena ketegangan yang timbul akibat berita tersebut.
Rekam jejak Horner dan rencana ke depan
Reputasi Horner menjadi alasan mengapa ketersediaannya menarik minat banyak pihak. Di bawah kepemimpinannya, Red Bull meraih enam gelar konstruktor dan delapan gelar juara dunia pembalap, yang dibagi antara Sebastian Vettel dan Max Verstappen. Catatan itu menggambarkan pengaruh besar yang pernah ia miliki dalam kancah F1.
Selain itu, Horner pernah mengungkapkan upaya-upaya yang tidak berhasil untuk mendatangkan nama-nama besar seperti Lewis Hamilton dan Fernando Alonso, memberi gambaran ambisi yang membentuk strateginya selama menjalankan Red Bull.
Saat ini Horner sedang mempromosikan bukunya, Drive, dan beberapa kali bicara tentang keinginannya memiliki pengaruh yang cukup untuk mengubah nasib sebuah tim. Kendati demikian, ia juga menyatakan sedang ‘damai’ dengan kehidupan di luar Formula 1 dan bahwa jeda kariernya kemungkinan akan berlanjut untuk sementara waktu.
Pernyataan Horner menutup pintu untuk gosip yang tak berujung sekaligus membuka kemungkinan yang lebih selektif: ia tidak menutup opsi kembali ke lintasan, tetapi hanya jika tawaran itu sesuai dengan syarat dan aspirasi yang ia tetapkan.
