Lamine Yamal mengaku memiliki keinginan kuat untuk kembali ke Bata, kota asal ibunya di Guinea Khatulistiwa. Meski hanya pernah berkunjung sekali saat berusia tujuh tahun, kenangan itu tetap membekas dan menjadi bagian dari identitasnya.

Pemain berusia 19 tahun ini menjalani musim yang cemerlang bersama klubnya, meraih gelar liga domestik, trofi Supercopa, dan sukses di level internasional, sehingga namanya masuk ke daftar kandidat terkemuka untuk penghargaan individu bergengsi pada 2026. Di balik prestasinya, Lamine masih menyimpan cerita masa kecil dan pengaruh keluarga yang kuat.
Kerinduan kembali ke Bata
Dalam sebuah dokumenter yang menyorot perjalanan hidupnya, Lamine menceritakan kunjungan singkat itu: “Aku pergi ketika berumur tujuh tahun dan hanya pernah sekali, tapi aku ingin kembali, sungguh.” Momen tersebut semakin berkesan karena ada sebuah foto yang menjadi satu-satunya bukti saat itu.
Ada cerita lucu di balik foto itu. Lamine mengakui bahwa sewaktu kecil ia tidak suka difoto, namun sang ibu memaksanya mengambil gambar dengan alasan itu akan menjadi kenangan yang baik saat ia dewasa. Ia menyebut foto itu sebagai satu-satunya yang ia izinkan diambil, dan hingga kini merasa foto itu penting untuk mengenang asal-usul dan tanah ibunya.
Rocafonda dan akar kehidupan
Lamine tumbuh besar di Rocafonda, salah satu lingkungan populer di Mataró, tempat keluarganya, para sepupu, dan teman-temannya tinggal. Ia menegaskan bahwa lingkungan itu menjadi dunia kecilnya sewaktu kecil: rumah nenek, permainan di sekitar, serta pergaulan dengan kerabat dan sahabat dekat.
Walau sukses di lapangan, Lamine tak melupakan akar yang membentuknya. Kenangan masa kecil di Rocafonda dan kunjungan ke Bata menjadi bagian cerita hidup yang ia bawa ke dalam karier profesionalnya. Ia melihat kedua tempat itu sebagai titik rujukan identitas dan motivasi.
Baca juga: Cádiz mengambil langkah tegas: Albert Celades dipecat setelah sepuluh laga tanpa hasil memadai
Peran ibu sebagai panutan
Ibu Lamine, yang berasal dari Bata, digambarkan sebagai sosok pekerja keras, penuh tanggung jawab, dan penuh rasa hormat. Ia selalu berusaha berbicara dengan anaknya setiap kali pulang, meski tampak lelah. Lamine menyebut ibunya sebagai salah satu rujukannya saat tumbuh besar, sosok yang memberikan contoh sikap disiplin dan kasih sayang.
Menurut Lamine, nilai-nilai yang ditanamkan ibunya — tanggung jawab, rasa hormat, dan kerja keras — ikut membentuk sikapnya di dalam maupun luar lapangan. Hubungan emosional ini juga membuat keinginannya untuk kembali ke Bata punya dimensi personal yang kuat, bukan sekadar kunjungan wisata.
Hubungan dekat dengan ayah
Di sisi lain, Lamine menceritakan hubungan hangat dengan ayahnya, Mounir Nasraoui, yang berasal dari Maroko. Ia menyebut sosok ayahnya dekat dan mudah diajak berteman: mereka berbagi waktu bermain PlayStation, berkumpul bersama teman-teman, hingga makan bersama. Rutinitas sederhana itu memperlihatkan ikatan familier yang kuat meski di tengah sorotan karier profesionalnya.
Hubungan yang akrab ini turut memberi Lamine keseimbangan emosional. Ia melihat ayah bukan hanya sebagai figur otoritatif, tetapi juga sahabat dan pendukung yang selalu hadir dalam kesehariannya.
Sisi kepribadian dan warisan budaya
Ketika ditanya aspek apa yang berasal dari akar Guineanya, Lamine menjawab singkat: “kesenangan” — ia menganggap dirinya sosok yang suka bercanda dan sering tersenyum. Sikap riang dan keramahan ini, menurutnya, mencerminkan pengaruh budaya ibunya yang membuatnya mudah bergaul dan menjaga keceriaan di tengah tekanan profesional.
Gabungan latar Rocafonda, warisan dari kedua orangtua, serta pengalaman singkat di Bata membentuk identitas Lamine yang kompleks namun konsisten. Ia membawa kenangan-kenangan itu saat menapaki karier dan ketika menghadapi sorotan publik.
Meski hari-hari terakhirnya dipenuhi prestasi dan perhatian internasional, kerinduan sederhana untuk kembali ke Bata tetap menjadi napas personal yang mengingatkannya pada asal-usul. Foto kecil yang tersisa dan cerita keluarga menjadi pengingat bahwa di balik pemain muda berbakat itu ada akar dan kisah yang tak pernah hilang.
