Francisco García Payán, mantan wasit dan yang selama 13 musim menjalani peran sebagai delegasi lapangan Sevilla, menyatakan keprihatinannya atas apa yang ia sebut sebagai kampanye terhadap wasit yang dilakukan oleh Real Madrid. Menurutnya, kampanye terhadap wasit itu bersifat sengaja dan telah merusak reputasi kolektif pengadil permainan.

García Payán, yang membawa pengalaman lebih dari 300 pertandingan di tingkat domestik dan Eropa, menilai arah pengelolaan wasit dan penggunaan teknologi VAR kini mengkhawatirkan karena kurangnya konsistensi dan transparansi dalam penerapan aturan.
Kampanye Terhadap Wasit dalam Sorotan
Dia mengatakan bahwa aksi tersebut bukan sekadar pelanggaran kecil, melainkan tindakan antipersportif yang layak dihukum berat. Menurutnya, peran asisten keempat dan kedua asisten memiliki pandangan perifer yang cukup untuk menangkap momen seperti itu, sehingga ketiadaan sanksi membuatnya terkejut dan kecewa.
Masalah rekaman dan penggunaan kamera
García Payán juga mempertanyakan alasan tidak tersedianya rekaman yang jelas dari sejumlah insiden, mengingat stadion tersebut diklasifikasikan sebagai salah satu yang dilengkapi dengan puluhan kamera. Ia menyebut bahwa setidaknya ada puluhan sudut kamera yang seharusnya mampu merekam momen kritis, dan bahwa rekaman udara yang beredar menunjukkan adegan yang cukup jelas untuk menilai pelanggaran.
Selain insiden yang berujung pada pelanggaran terhadap Peque, Payán menyoroti adanya pelanggaran di awal serangan yang menghasilkan gol kedua lawan, yang melibatkan kontak terhadap Robbie Ure. Ia menyayangkan tidak ditayangkannya ulang adegan tersebut dalam siaran pertandingan padahal bagi suporter awam, itu tampak sebagai pelanggaran yang jelas.
Kebutuhan transparansi dan peran CTA
Setelah pertandingan, delegasi klub bahkan meminta kepada Komite Teknikal Wasit (CTA) agar memberikan gambar dan rekaman audio dari komunikasi antara wasit utama dan ruang VAR. Payán menyambut langkah itu sebagai upaya wajar demi transparansi, karena publik perlu dijelaskan alasan teknis mengapa suatu keputusan diambil atau tidak ditinjau.
Ia menekankan pentingnya kepercayaan terhadap integritas wasit, namun juga meminta adanya mekanisme yang memungkinkan pengakuan kesalahan ketika memang terjadi. Menurutnya, kendala terbesar adalah ketidakmampuan institusi perwasitan untuk secara terbuka mengakui kekeliruan, karena itu berisiko menempatkan badan wasit dalam posisi defensif dan membuat solusi pascakonteks sulit dilakukan.
Struktur pengawasan kini dan kritik terhadap praktik
García Payán menguraikan bahwa pengawasan pertandingan saat ini melibatkan banyak pihak: wasit utama, dua asisten, asisten keempat, staf di ruang VAR, pengamat TV, dan delegasi informatif yang menonton langsung di stadion. Selain itu, ada proses evaluasi pasca-pertandingan yang harusnya mengkaji potensi kesalahan. Meski demikian, ia mempertanyakan mengapa insiden serius tetap luput dan meminta agar setiap keputusan yang tidak direvisi disertai alasan teknis yang jelas.
Ia juga menyinggung pergantian kepemimpinan di CTA sebagai momen refleksi. Meskipun profesionalisasi, dedikasi penuh waktu, dan pelatihan terus dilakukan, Payán berpendapat bahwa masih ada pekerjaan rumah besar agar persepsi bahwa tim besar diuntungkan bisa dibuang lewat penegakan aturan yang konsisten.
Refleksi atas 13 tahun di Sevilla dan harapan ke depan
Berbicara tentang pengalamannya di Sevilla, García Payán mengenang lebih dari 300 pertandingan yang diikutinya bersama klub—momen yang mencakup era Monchi, periode kepelatihan Óscar Arias, dan masa-masa sulit saat pandemi. Ia menyatakan bangga pernah menyaksikan pertandingan dari pinggir lapangan pada masa stadion kosong, sebuah pengalaman yang tak ternilai.
Sekarang sebagai suporter, ia mengaku optimistis melihat renovasi skuad dan pergerakan di direksi olahraga yang menurutnya telah membuat beban berkurang. Meski berhati-hati agar tidak berlebihan berharap, Payán menilai fondasi kini mulai dibangun agar klub kembali bersaing memperebutkan posisi penting di masa depan.
Di akhir, ia kembali menegaskan bahwa yang paling mendesak adalah meningkatkan transparansi, memperbaiki konsistensi dalam interpretasi aturan, dan memberi alat yang memadai kepada wasit agar kesalahan dapat diminimalkan. Tanpa langkah-langkah itu, menurutnya, kekhawatiran terhadap kampanye yang merusak nama baik kolektif perwasitan akan terus mengganggu jalannya kompetisi.
